Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Hometentang omahsoreJan 16, 2009
Gemes karena naskah anda berulang kali ditolak oleh penerbit dengan alasan yang tidak selalu karena tulisan anda tidak bermutu, melainkan karena tidak ‘menjual’? Dan anda bukan selebriti yang dapat dimanfaatkan kepopulerannya untuk memberikan keuntungan bagi penerbit? Tidak seperti penerbit konvensional yang mensyaratkan jumlah cetak minimum, OMAHSORE selaku penerbit print-on-demand, mendesain-melayout-mencetak, dan menerbitkan naskah sesuai dengan kebutuhan/permintaan, juga anggaran yang dimiliki oleh penulis. Penulis juga dapat memperbaiki atau menambah materi naskahnya pada detik-detik terakhir, yang tidak dapat dilakukan apabila penulis menggunakan percetakan konvensional. Karena penggantian film dan plat tak hanya memerlukan biaya tambahan, tapi juga waktu yang lebih lama. Namun demikian tidak setiap naskah dapat begitu saja diterbitkan oleh OMAHSORE. Sebagaimana layaknya sebuah penerbitan, OMAHSORE tetap memiliki proses kurasi atas setiap naskah yang masuk atau ditawarkan. Proses seleksi ini tidak lain untuk menjaga kualitas isi dari satu terbitan ke terbitan berikutnya, sehingga lambat laun OMAHSORE sebagai sebuah badan penerbitan akan memiliki satu ciri yang kuat yang akan membedakan produknya dengan produk penerbit-penerbit lain, dan bukan hanya pada modus produksinya. Tetapi di samping itu OMAHSORE juga memiliki divisi penerbitan lain, yakni GREENTEA PUBLISHING, yang memiliki kebijakan yang berbeda dalam sistem kurasinya, di mana GREENTEA PUBLISHING diberadakan untuk memfasilitasi kebutuhan teman-teman penulis yang karyanya ingin dibukukan. Sistem kurasi di GREENTEA PUBLISHING lebih terbuka dan cair dibandingkan OMAHSORE yang memang mengusung standar estetika tertentu.

Selain menerbitkan buku-buku baru, OMAHSORE juga mencetak ulang buku-buku langka/yang sudah tidak diterbitkan lagi, sementara kebutuhan pembaca atas buku tersebut masih cukup tinggi. Pemilihan buku yang akan dicetak-ulang didasarkan kepada kebutuhan tersebut, meski tak menutup kemungkinan inisiatif ini dilakukan oleh penulisnya sendiri. Buku-buku ini dikenal dengan istilah Out-Of-Print/OOP. OMAHSORE juga berfungsi sebagai toko buku, dengan menyiapkan rak bagi buku-buku lain di luar terbitan OMAHSORE, dengan perjanjian kerjasama yang akan dibicarakan lebih jauh.

Apabila teman-teman ada yang berminat, atau hanya sekedar ingin mengenal OMAHSORE dan GREENTEA PUBLISHING serta cara kerja sama dan hal lain yang berkaitan dengan omahsore, silakan menghubungi kami di omahsore@omahsore.web.id atau omah_sore@yahoo.com. Kami akan segera mengirimkan file yang anda butuhkan. Terima kasih.

Salam hangat,

OMAHSORE & GREENTEA PUBLISHING

Blog EntrySep 9, '09 3:06 AM
for everyone
-- Bambang Sugiharto*

Dalam denyut sastra Indonesia saat ini sangatlah langka orang menggarap ulang tema-tema dari khasanah mitos purba yang sesungguhnya mendalam dan kaya . Dinar Rahayu adalah salah satu yang serius menggarapnya (selain penulis lain yang lebih kawakan macam Danarto atau Sindhunata misalnya).


“Keduanya bertarung. Tapi Shosadan terlalu muda dan dungu. Ia kalah. Sebagai usaha terakhir ia menampar kedua wajah ayahnya, masing-masing dengan satu sayapnya. Rusaklah kedua wajah ayahnya, kening dan hidungnya hancur; tiga dari empat matanya melesat keluar. Tapi sayap Shosadan pun patah. Ia tak bisa lagi terbang. Dengan tertatih-tatih ia menyeret sayapnya dan berjalan menjauhi kuil. Ayahnya mengutuk Shosadan untuk terus berjalan walau kakinya bengkak bernanah, untuk tetap menangis walau matanya bengkak dan airmatanya tak asin. Kutukan itu hanya berhenti jika ia bisa bertemu dengan ibunya.” (Cerpen Magainin ).

Itu kutipan kecil dari buku kumpulan cerpen Dinar Rahayu yang berjudul Lacrimosa . Meski arti harfiah “lacrimosa” (Latin) adalah “berurai airmata”, buku ini bukanlah kumpulan cerita yang mengiba-iba dan menyeret emosi melodrama. Keduabelas cerpen di dalamnya adalah penjelajahan mendalam namun dingin atas sisi gelap dan ketaksaan jiwa manusia, dengan kesakitan, kebertubuhan dan impian-impiannya. Langgam dasarnya cenderung bermain dan berjarak, layaknya cerita-cerita mitos purba yang memaparkan segala keganjilan dan tragedi sebagai kewajaran biasa saja. Ya, acuan-acuan ke dunia mitologi purba itulah yang juga membuat buku ini menarik dan unik.


Kerangka mitik Lacrimosa

Seperti tertulis pada catatan awal buku tersebut, cerpen-cerpen dalam Lacrimosa rupanya memang banyak diinspirasikan oleh khasanah mitologi dunia. Tengoklah judul-judul cerpen di dalamnya seperti Enuma Elish , Magainin , Igdrasil , atau Medusa , misalnya. Namun cerpen-cerpen itu bukanlah penulisan ulang semata dari mitos awalnya. Cerpen-cerpen itu lebih merupakan rekontekstualisasi sangat bebas tokoh-tokoh mitik purba : tokoh-tokoh itu diambil sebagai karakter belaka dan dimasukkan ke dalam alur cerita baru.

Sebenarnya pengertian mitos yang diacu oleh Dinar pun sangatlah longgar : dari khasanah antik Yunani, Mesir, Skandinavia hingga mitos mutakhir yang biasa ditayangkan lewat film atau pun novel ( macam film Star Wars , atau novel Vanity Fair karya William Thackeray). Kekuatan kerangka mitik terletak pada permainan logika ‘asosiasi’, yang menganggap apapun bisa menjadi apapun : tatapan dapat mengubah seseorang menjadi batu; dewa bisa memperkosa dan menghamili manusia; ibu bisa membunuh anaknya, dst. Logika mitos memang bukanlah logika ’sebab-akibat’. Bila logika ‘sebab-akibat’ memungkinkan orang menjelaskan pola umum cara kerja kenyataan, logika ‘asosiasi’ memungkinkan orang memahami dan memaknai fluktuasi pengalaman beserta disposisi batin yang menyertainya. Logika ‘asosiasi’ dalam mitos memungkinkan manusia memandang kehidupan sebagai tegangan dramatis yang mendamaikan sekaligus mengatasi aneka kontradiksi dalam pengalaman. Dan dengan cara itu pengalaman dapat dimaknai, dipelajari atau pun digali lebih dalam lagi.

Kebebasan memainkan alur mitik itu sangat menawan dan kuat khususnya pada cerpen
Magainin yang imajinatif tanpa menjadi nyinyir dan berhasil melukiskan pergumulan pelik seorang individu dengan takdir , dengan orangtua dan otentisitas dirinya. Seperti watak mitos umumnya, cerpen Magainin sekilas tampak dingin dan ringkas, namun menjanjikan kedalaman dan ambiguitas eksistensial tak terduga. Sebenarnya pola mitik terasa pula pada cerpen Imago, “Sel, dan “Igdrasil, namun disana pelukisan suasana sering terlampau berlarat-larat hingga alur utamanya tak cukup menyiratkan kompleksitas dan kedalaman pengalaman. Cerpen Igdrasil, Sel, tapi juga cerpen Lacrimosa , lebih melukiskan situasi-situasi survival di ranah ekstra-terrestrial beserta gejolak politisnya. Untuk cerpen-cerpen jenis sci-fi begini imajinasi dan fantasi Dinar Rahayu dalam melukiskan rincian teknis lumayan mengagumkan. Akan tetapi disana gejolak batin para karakternya kurang tereksplorasi dengan baik. Alhasil yang lebih tampil hanyalah eksotika suasana dan latar luaran saja. Cerpen Lacrimosa sendiri memang agak berbeda. Disana masih terasa ada dialektika identitas timbal balik antara tokoh ‘Aku’ dengan pesawat ruang-angkasanya, yang mengingatkan saya pada film Space Odissey 2001 dari Stanley Kubrik.


Sketsa puitik Suasana Batin

Sebenarnya kekuatan Dinar terletak pada pelukisan suasana yang bagai garis-garis sketsa impresionistik, yakni kilasan-kilasan deskripsi yang samar namun menyiratkan kesan dan suasana batin kuat. Dan itu tampil menawan pada cerpen Enuma Elish misalnya. Cerpen ini adalah sketsa ringkas namun tangkas ihwal transaksi seksual antara pelacur dan tokoh Hasyim. Ironi antara pemenuhan kebutuhan biologis dan kekosongan psikologis tampil indah di sana : betapa pemenuhan hubungan fisik sepertinya hanya menggarisbawahi kekosongan batin keduanya. Dan itu terutama terasa dalam dialog-dialognya yang tak nyambung. Di sana-sini ada frasa-frasa bernas yang membuat momen perjumpaan itu bahkan terasa puitik. Tengoklah kalimat seperti ini : “ Kau tahu, kenangan itu adalah zakar kucing dalam formalin ?” Atau juga ini : “Enuma Elish adalah ketika kita berada di ketinggian………ketika langit belum bernama langit dan bumi belum dinamai bumi. Saat itu belum ada yang harus diingat, belum ada kejadian yang ingin dikenang……saat kekosongan di ketinggian, saat sebelum manusia dibuat …”

Kekuatan serupa tampil pula pada cerpen Medusa, meski yang satu ini lebih menampakkan kekuatan puitiknya pada konstruksi alurnya yang imajinatif dan tak terduga. Cerpen ini bercerita tentang seseorang yang dikutuk ibunya untuk menjadi pelacur selamanya dan selalu melarang pelanggannya untuk memandang wajahnya ketika bercinta sebab ia merasa buruk rupa bagai Medusa. Pelacur ini lantas jatuh cinta kepada seorang lelaki buta bernama Cinta, yang setelah saling bertukar kepala lelaki itu mengaku bahwa ia adalah ayahnya. Cerpen ini, kendati alurnya terkesan pelik, seperti menawarkan alegori psikologis yang mendalam ihwal misteri seksualitas dan cinta; semacam versi lain yang segar dari konsep Oedipus Kompleks ”Freudian atau pun konsep Fase Cermin Lacanian dalam khasanah Psikoanalisis.

Redefinisi Cerpen

Hal lain yang menarik adalah bahwa cerpen-cerpen di bagian akhir buku itu memerlihatkan perubahan arah dan pencarian gaya penulisan baru pada Dinar : alur menjadi tidak terlalu penting, konstruksi bentuk menjadi fragmentaris bagai kolase, pokok tematik menjadi minimalis. Itu tampak pada cerpen “Paradiso” yang enigmatik, cerpen Impuls yang tanpa cerita, Malam Basilisk yang bercanda, dan cerpen “Lubang” yang menangkap momen kesadaran sesaat. Konsekuensinya, bagi pembaca konvensional cerita-cerita itu akan terasa mengambang, melayang, ‘tidak nendang’, persis seperti ketika Dinar melukiskan ihwal ‘doa’, seperti ini : “……tak seperti peluru yang mengentak, doa lebih mirip diamnya daun yang kering dan jatuh ke permukaan sungai yang tenang, menimbulkan riak kecil dan ikut mengalir tanpa suara. Suara. Kadang ia hanya menimbulkan gaduh dan gundah. Sementara ia tak benar-benar mengusir sepi. Suara hanya mengisi ruang dan meninggalkannya tetap dalam kekosongan.” ( cerpen Impuls ). Kira-kira serupa itulah juga cerpen-cerpen eksperimentalnya di bagian akhir Lacrimosa itu : bagai daun kering yang jatuh ke permukaan sungai yang tenang; atau suara yang menyisakan kekosongan. Bukan tidak berharga, tentu, tetapi menuntut kerangka estetika yang berbeda. Barangkali seperti estetika Zen, yang intens merenungi bentuk dan riak-riak kecil; yang memandang segala kesederhanaan, kesahajaan dan kekecilan sebagai manifestasi energi semesta yang menakjubkan.

Aura kontemplasi jenis itu jugalah yang terasa manakala kita menemukan frasa-frasa
macam ini : “…Warna tehku semakin gelap sepertinya malam melarut di dalamnya. Panas teh ini yang berdifusi pada dinginnya udara malam hanyalah cerita tentang energi yang transit dari satu benda ke benda yang lain” (cerpen Malam Basilisk). Pada titik ini buku Lacrimosa akhirnya seperti me-redifinisi hakekat ‘cerpen’ itu sendiri. Cerpen lantas menjadi -meminjam metafora Dinar sendiri saat melukiskan senja : “…seperti kaca pembesar yang membuat rasa sepi dan sedihku tampak lebih menakutkan dari ukuran sebenarnya. Seperti setetes embun terakhir yang menggantung di dahan kurus yang memperbesar daya sinar matahari pada satu titik, menetaskan nyala dan membuat padang rumput terbakar.”

Bambang Sugiharto, Gurubesar Estetika, pengamat sastra.

WAYANG GUNAWAN MARYANTO
Sapardi Djoko Damono

Agar tidak terlampau banyak menghamburkan kata, puisi modern yang beraksara adalah mitos yang ditulis berdasarkan mitos yang ada sebelumnya. Setidaknya, penyair modern memanfaatkan, lebih dari pawang, dukun, pengamen zaman dulu yang menyebarluaskan kisah secara lisan. Mitos adalah istilah asing yang tidak ada padanannya dalam bahasa kita, Indonesia maupun daerah, dan istilah yang biasa kita pergunakan adalah dongeng, yang mencakup segala pengertian yang dicakup mitos – atau kalau merupakan kumpulan disebut mitologi. Dongeng yang dimanfaat oleh penyair muncul dalam berbagai bentuk dan diproses dengan berbagai cara dan strategi. Penyair bisa saja menggunakan dongeng untuk menggarisbawahi apa yang selama ini tersirat di dalamnya, tetapi juga – sebaliknya – memelintirnya sedemikian rupa sehingga merupakan hasil upaya untuk menawarkan nilai-nilai dan cara baru dalam memandang kehidupan.

Setiap masyarakat menciptakan dongeng sesuai dengan kebutuhan hidup yang sebagian besar ditentukan oleh habitatnya, sejalan dengan ekosistem dan keadaan geografisnya. Dongeng diciptakan untuk menjawab berbagai pertanyaan yang muncul berkaitan dengan segala sesuatu yang dihadapi masyarakat itu dalam kehidupan sehari-hari, baik yang berupa keadaan alam maupun konsep-konsep yang berkaitan dengan nilai-nilai dan norma. Bahkan bisa dikatakan bahwa dongeng diciptakan justru untuk menegaskan nilai-nilai dan norma-norma yang dikembangkan setelah masyarakat yang bersangkutan berhadapan dengan berbagai pertanyaan yang sulit dijawab dengan cara yang lugas. Dalam masyarakat Jawa, dongeng wayang telah berkembang sedemikian rupa sehingga oleh banyak pihak telah dianggap sebagai wadah untuk merekam pandangan hidup masyarakat itu. Gunawan Maryanto, kebetulan, adalah anggota masyarakat tersebut yang dalam sebagian sajak yang dikumpulkan dalam buku puisi ini memanfaatkan wayang sebagai sandaran strateginya dalam menyampaikan ‘pesan’ atau dongeng – kalau boleh disebut demikian. Atau, setidaknya penyair ini telah mengembangkan strategi untuk memanfaatkan dongeng sebagai cara pengucapan, dan ‘kebetulan’ dongeng yang dimanfaatkannya itu berasal dari kebudayaan yang membesarkannya.

Wayang adalah dongeng yang dikembangkan masyarakat Jawa berdasarkan dongeng yang semula diciptakan oleh masyarakat lain nun jauh di barat, yakni India. Di sini terletak keunikan posisi wayang sebagai dongeng Jawa yang sampai hari ini bertebaran dalam karya sastra kita, yang ditulis oleh Jawa maupun oleh sastrawan yang berasal dari kebudayaan lain. Kalau kita katakan sekarang bahwa Gunawan Maryanto telah memanfaatkan wayang sedemikian rupa agar sesuai dengan situasi komunikasi modern yang telah menuntutnya untuk di sana-sini mengubahnya, dongeng yang diubahnya itu sebenarnya juga merupakan usaha pujangga-pujangga sebelumnya untuk melakukan hal serupa. Demikianlah maka dongeng, dalam masyarakat mana pun, menjadi tradisi karena senantiasa mengalami proses serupa itu. Tradisi adalah proses, bukan sesuatu yang berhenti dan menjadi fosil. Dari sudut pandang ini, Gunawan Maryanto telah melaksanakan tugas sebaik-baiknya untuk memberikan sumbangan dalam menciptakan tradisi dongeng Jawa. Dengan berbagai piranti puitik yang dikuasainya dengan sangat baik, ia telah memanfaatkan – baca: mengocok, memelintir, menggarisbawahi, menyalahartikan – dongeng wayang (dan juga berbagai dongeng lain yang dikembangkan masyarakatnya) telah menjadi sangat dominan sebagai alat pengucapan dalam puisinya.

Situasi yang melandasi proses kreatif penyair ini unik sebab ia berketetapan untuk menggunakan, misalnya, kisah-kisah yang ada dalam Mahabharata, yang beberapa bagiannya (lain maupun sama) juga dipergunakan oleh penyair Indonesia lain seperti Goenawan Mohamad dan Linus Suryadi AG. Keunikan itu terletak pada kenyataan bahwa mereka menggunakan wayang, tetapi tidak jelas apakah yang sudah diplintir oleh pujangga Jawa atau yang masih kedapatan dalam kitab Mahabhrata India yang di zaman kita ini sudah sangat banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk Indonesia. Ingat bahwa Gareng tidak pernah ada dalam Mahabharata India dan kelamin Srikandi Jawa tidak sama dengan yang di negeri asalnya. Tokoh Pariksit dalam salah satu sajak Goenawan Mohamad tampaknya diciptakan dari Mahabharata India sedangkan sejumlah besar tokoh wayang dalam puisi Linus Suryadi AG dikembangkan dari wayang Jawa, yang sangat mungkin sudah menjadi bagian tradisi kelisanan sekunder dalam pertunjukan wayang purwa.

Kita bandingkan situasi ini dengan yang terjadi di Eropa berkenaan dengan dongeng, atau mitologi, Yunani yang konon menjadi landasan cara berpikir orang benua yang terbagi menjadi puluhan bahasa dan ratusan dialek itu. Penyair Inggris, misalnya, sampai hari ini masih menggunakan dongeng yang berasal dari negeri yang sangat jauh di sebelah timur yang, meskipun dikatakan masih tetap menjadi bagian hidup mereka, sudah sayup-sayup sampai suaranya di kalangan masyarakat luas. Pada zaman yang sama sejumlah penyair Yunani modern, misalnya Georgios Seferiades, mengacunya dengan aman sebab mitologi itu masih menjadi milik mereka. Dongeng-dongeng tentang Oedipus, misalnya, memang dikenal di Eropa Barat tetapi, seperti halnya wayang bagi orang Jawa, pada dasarnya adalah barang impor yang jelas sudah diplintir oleh pujangga setempat. Dongeng Mahabharata yang sampai hari ini masih juga menjadi bagian dari kesusastraan India modern juga ditulis kembali oleh penyair-penyair di Asia Tenggara Indonesia.

Ada yang berpendapat bahwa dalam situasi semacam itu Seferiades diuntungkan karena ia berbicara kepada masyarakatnya yang memang sudah menghayati nilai-nilai yang ada dalam dongeng tersebut, namun pada hemat saya keadaannya serupa saja jika masyarakat yang menerimanya menghayati (atau tidak menghayati lagi) dongeng itu. Yang diciptakan Goenawan Mohamad dalam salah satu sajaknya adalah Pariksit yang mungkin berdasarkan kitab India sedangkan yang diciptakan Gunawan Maryanto mungkin adalah Gandari yang sduah menjadi orang Jawa. Dalam kasus serupa, Gareng yang diciptakan Linus Suryadi dalam salah satu sajaknya benar-benar asli Jawa. Namun apa pula bedanya? Ketiga penyair itu telah berusaha untuk menciptakan sosok yang dikembangkan dari dongeng demi kelancaran pengucapan puisinya. Mereka merasa aman telah mengungkapkan penghayatannya terhadap kehidupan dan cara memandang kehidupan dengan dongeng yang mereka kuasai sebaik-baiknya.

Pemanfaatan dongeng serupa itu bisa dilaksanakan berdasarkan berbagai strategi, antara lain dengan menciptakan tokoh, menyusun alur, menggelar latar, atau memadukannya dalam keseluruhan sajak tanpa menyebut salah satu unsur tersebut. Ini adalah proses yang biasa terjadi jika sastrawan memasukkan ideologi ke dalam karyanya, dan dongeng adalah ideologi itu – atau kendaraannya, yang tidak bisa dipisahkan dari muatannya. Proses itu menghasilkan puisi yang bermuatan sesuatu yang dihayati penyairnya, namun mau tidak mau memiliki potensi besar untuk menimbulkan masalah bagi pembacanya. Dalam kesusastraan kita, masalah itu justru merupakan inti perkembangannya, daya yang senantiasa mendorongnya untuk menjadi kesusastraan yang benar-benar modern, yang bernama Indonesia. Puisi Gunawan Maryanto ditulis dalam bahasa Indonesia, bahasa yang dipahami oleh sebagian sangat besar penduduk negeri ini, namun dongeng yang mendasarinya tidak akan bisa dikenali oleh sebagian besar orang yang tinggal di kepulauan ini. Bahkan, lebih dari itu barangkali, sebagian orang yang berdarah dan berkebudayaan Jawa pun tidak lagi mengenalinya.

Dalam puisi Gunawan Maryanto, Gandari diambil untuk mengarisbawahi nilai-nilai yang sampai sekarang masih berlaku dalam kebudayaan Jawa pada umumnya, yakni bahwa Kurawa itu hitam dan gelap yang senantiasa menuding Pandu, tokoh yang mutlak melambangkan kebenaran dan keadilan. Penyebutan seratus anak Gandari dalam sajak ini mendesakkan kepada kita betapa besarnya kuantitas yang hitam dalam hidup kita ini: ini adalah salah satu strategi penyair untuk memanfaatkan dongeng. Dalam beberapa sajak lain penyair menempatkan dongeng dalam konteks yang lebih mudah dikenal, dalam situasi yang bisa saja berlangsung hari ini. Meskipun judul sajak “Surtikanti” atau “Banowati”, misalnya, akan bisa mengganggu pembaca yang tidak menjadi bagian dongeng wayang, larik-larik dan bait-bait yang disusun akan dengan mudah bisa diikuti pembaca sebagai suatu kisah yang ditata secara sangat baik dari segi diksi maupun peristiwa. Ini bisa dijelaskan sebagai strategi yang tidak sekadar penjejalan ideologi, seperti yang bisa saja dirasakan ketika membaca kisah Gandari, tetapi meleburkan gagasan dalam puisi seutuhnya, meskipun tentu saja masih tetap menuntut niat baik pembaca untuk mengusut perangai dan kisah Banowati dan Surtikanti dalam wayang.
Kita simak saja ringkasan kisah Banowati yang bisa dibaca dalam sebuah buku , begini dongengnya.

Dewi Banowati puteri Prabu Salya, raja Mandaraka. Banowati seorang puteri yang sangat cantik, bukan karena dari berhiaskan ratna mutu manikam dll., tetapi kecantikannya itu nampak pada waktu tidak berhias; inilah kecantikan yang sebenar-benarnya. Tingkah laku puteri ini serba pantas, sekalipun asam mukanya, manisnya makin bertambah.
Bermula Banowati jatuh cinta pada Arjuna, kemudian ia menjadi permaisuri Raja Suyudana, tetapi hatinya merasa berat bersuamikan raja itu. Percintaan Banowati pada Arjuna disambung sehabis perang Bharatayuda, sematinya Suyudana, Banowati diperisteri oleh Arjuna. Tetapi tingkah laku Banowati yang sedemikian itu menyebabkan kemurkaan Aswatama, seorang teman Korawa. Banowati dibunuh mati oleh Aswatama itu pada waktu ia sedang tidur nyenyak.
Inilah pembalas dendam Aswatama pada Banowati, lantaran Banowati selalu mempermainkan Prabu Suyudana, merendahkan keutamaan seorang raja.

Tentu sama sekali tidak ada, dan juga tidak diperlukan, jaminan bahwa penyair pernah membaca buku itu, namun jelas ia mengenal kisah itu dengan baik. Dalam kutipan ringkas itu termaktub kisah cinta dan balas dendam. Yang menjadi tokoh-tokohnya ternyata juga menjadi sumber sajak-sajak lain, yakni “Aswatama” dan “Surtikanti”, lewat seorang tokoh Arjuna, yang menduduki posisi penting dalam cara berpikir orang Jawa tentang cinta dan kejantanan. Kisah itu ditata kembali oleh penyair ini dalam sebuah sajak yang kompak berjudul “Banowati”, yang terdiri atas sekian belas bait, yang menunjukkan kemampuan mamanfaatkan bahasa Indonesia sebagai alat dan sekaligus habitat baru kisah Jawa itu. Awal sajak itu sebagai berikut:

bahkan tuhan pun lupa
kenapa aku mencintaimu

aku lupa:
ini cinta atau alpa
ini cinta atau apa

Dan bait pertama yang terdiri atas dua larik itu dijadikannya penutup sajak. Dan berikut ini saya kutip sajak “Surtikanti” seutuhnya, yang merupakan tafsir penyair atas sebuah kisah cinta dalam Mahabharata yang juga sudah sangat luas dikenal di kalangan masyarat Jawa yang mengenal wayang.

di malam pengantin
dua lelaki berkejaran
sepanjang tubuhku sepanjang malam
berlarian di kancing baju, cincin,
giwang, leontin,
dan jam tangan
tapi cuma satu yang berdiam dalam anganku:
lelaki dengan benih matahari di kedua matanya
dengan deras sungai gangga dalam jantungnya
yang menyimpan kesedihanku diam-diam

maka diamlah seluruh mandaraka
biarkan malam menyembunyikan cintaku
menggelapkan kekasihku
dari anjing jaga dan peronda

Landasan sajak ini adalah kisah Surtikanti, puteri raja Mandaraka, yang dicurigai diam-diam menerima ‘tamu’ gelap malam-malam yang wajahnya mirip Arjuna. Karena penasaran dan atas perintah sang Raja, Arjuna pun menyelidiki siapa orang asing itu, dan akhirnya ia berhasil menangkapnya: ternyata dia adalah Suryaputra (artinya: putera Sang Surya, “benih matahari di kedua matanya”) yang di kemudian hari dikenal bernama Karna. Perkelahian sengit pun terjadi antara kedua ksatria itu (yang kemudian direkam dalam sebuah tarian Jawa klasik yang bernama “Karna Tandhing”), dan untung sesaat sebelum Arjuna menghabisi si ‘tamu’, seorang Batara turun untuk melerai keduanya. Surtikanti pun akhirnya kawin dengan si ‘tamu malam’, orang yang dicintainya salama ini.

Gunawan Maryanto dengan cerdik berhasil memanggungkan kisah cinta itu dalam sebuah lirik ringkas, dengan tafsir yang menjadikannya semakin dramatik karena diksi dan latar yang diciptakannya. Kita masih merasa bahwa kisah itu terjadi di sebuah kerajaan zaman dahulu kala, tetapi sekaligus bisa menghayatinya sebagai suatu yang menjadi milik masa kini. Proses dan strategi inilah yang seharusnya dimaknai sebagai upaya melanjutkan tradisi, dan tidak melestarikan tradisi sebab lestari juga berarti mati. Nilai-nilai dan norma yang sudah sejak lama dibangun dan dikembangkan masyarakat dilanjutkan dengan cara menafsirkan kembali dongeng dalam konteks latar yang berbeda, yang mungkin saja sangat jauh dari apa yang dahulu dibayangkan oleh masyarakat yang menciptakannya. Sekali lagi perlu disinggung, hal itu tentu saja bisa menimbulkan masalah bagi pembaca non-Jawa maupun Jawa yang sudah tidak kenal lagi dongeng serupa itu.

Gunawan Maryanto adalah penyair yang telah menemukan cara menyusun lirik: “Surtikanti” adalah salah satu contoh saja. Sajak-sajak ringkasnya yang lain, yang tidak ada kaitannya dengan usaha untuk menafsirkan dongeng, tentu lebih siap menghadapi pembaca yang tidak mengenal dongeng yang oleh orang Jawa telah diplintir menjadi bagian integral dari kebudayaannya. Sajak yang dijadikan judul buku ini membuktikan hal itu. Namun, dalam rangkaian sajak ringkas ini dan sejumlah sajaknya yang lain Gunawan Maryanto tetap saja memanfaatkan berbagai anasir wayang – tanpa menyebut nama tokoh atau peristiwa – dalam larik-lariknya. Ia menyeret semua itu dan mengembangkannya dalam suatu situasi modern, dalam suatu kisah cinta masa kini yang menyediakan diri untuk kita tafsirkan sesuai dengan pengetahuan kita tentang si penyair dan penghayatan kita akan makna cinta yang menyusun sendiri petualangannya.***

(Disampaikan pada acara Bedah Buku "Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya" 7 Juni 2009)


-- Sapardi Djoko Damono*

KITA senantiasa berada pada saat ini dan di sini. Itulah "dunia" yang kita kenal. Masalah kita, dengan demikian, adalah bagian dari yang saat ini dan di sini, tak putusnya berubah, selalu menuju ke sesuatu tetapi hanya bisa sampai di sini, di saat ini. Kita merasa mengenal baik hal itu dan karenanya menganggapnya sebagal hal sehari-hari yang bisa saja tidak ada daya tariknya lagi. Karena tidak betah berada di "dunia" yang demikian itu, kita ingin melepaskan diri dan melesat ke suatu situasi yang membebaskan kita dari yang sehari-hari itu.

Dan kita pun menciptakan dongeng. Bermacam-macam jenisnya, dari yang rasanya masih sangat dekat dengan "dunia" kita sehingga kita merasa sudah mengenalnya sampai yang begitu jauh sehingga hanya bisa "dibaca" oleh sebagian kecil dari kita. Dan karena kita ini merupakan bagian dari proses kelahiran dan kematian, spektrum yang tak terbatas bentangannya tetapi yang tidak juga bisa lepas dari keadaan kita sebagai yang berada di sini di saat ini, masalah yang kita sodorkan dalam dongeng ternyata itu-itu juga. Yang menarik untuk dibicarakan adalah cara meracik dongeng itu.

Itulah yang perlu dibicarakan berkenaan dengan sejumlah cerita pendek yang dikumpulkan Dinar Rahayu dalam Lacrimosa. Kalaupun merasa tak usah memedulikan pesan yang ingin disampaikannya, kita tahu bahwa masalah yang ditulisnya adalah sejumlah titik dalam spektrum itu juga: cinta, kasih sayang, keterasingan, kesunyian, kebimbangan, ketidakpastian, dan maut. Semua itu bisa saja kita sebut dengan kata-kata berbeda tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Titik-titik spektrum itu merupakan bagian yang berproses dalam diri kita; kita merasa mengenalnya dengan baik, tentu dengan kadar yang bisa saja berbeda-beda. Itulah yang kita kenal sebagai yang "sehari-hari", yang "membelenggu", yang menyebabkan kita berusaha untuk menciptakan panggung lain nun di sana agar bisa memainkan kehidupan yang "tidak mungkin", yang tak bisa dicapai di sini dan saat ini.

Dalam buku yang menarik ini, Dinar telah menciptakan panggung yang tata busana, tata rias, dan berbagai properti lainnya sedemikian rupa sehingga memberi peluang bagi tokoh-tokoh yang diciptakannya untuk tampil sebagai makhluk "asing" di hadapan kita. Memang itulah pada dasarnya ciri dongeng: mengasingkan yang biasa. Dalam konsep ini, tokoh-tokoh Oedipus dan Kancil tidak ada bedanya. Mereka bermain di panggung yang tidak bisa kita capai, kita menjadi penonton yang membacanya, yang karenanya merasa telah terpenuhi hasratnya untuk lepas dari yang saat ini dan di sini. Lacrimosa, Igdrasil, Kasandra, Magainin dan yang lain-lain adalah tokoh-tokoh yang dimainkan oleh Dinar dengan cerdas di berbagai panggung yang memberi kesan bergeser-geser ke masa lampau dan masa depan.

Saya ambil contoh "Igdrasil" untuk membicarakan literary device "akal-akalan sastra" yang dipergunakannya. Katanya, nama itu dicongkelnya dari sebuah dongeng Skandinavia. Nah, Dinar telah melaksanakan tugas utama pencipta, yakni mencuri. Kenal atau tidak kenal nama itu sebelumnya, kita langsung dibawanya ke panggung Termagania yang dihuni oleh laki-laki yang ditakdirkan untuk hamil. Kita kenal konsep laki-laki dan juga pengertian kehamilan. Dan ketika di panggung dua konsep itu digabung, ia menjadi "asing" namun tetap bisa kita kenali seperti halnya Kancil yang bisa bicara dan Oedipus yang mengawini ibunya. Kita pun langsung bisa membayangkan laki-laki itu karena bentuknya "seperti kuda laut", meskipun dijelaskannya bahwa proses kehamilan itu sama sekali berbeda dengan yang kita kenal di kalangan manusia:

...pada bagian perutnya terdapat semacam kantung rahim, di bawahnya terdapat bukaan tempat sang istri menyimpan telur untuk ia buahi sesaat setelah mereka bersetubuh.

Lelaki hamil itu dibiarkannya hidup di sebuah "dunia" asing yang sedang mengalami masalah keamanan gara-gara perseteruan dengan suatu masyarakat lain yang dinamakan Drakonia. Ada pasukan perdamaian, ada pesawat terbang yang meledak, dan kapsul penyelamat yang bisa saja menggoda kita untuk membayangkan seri film Star Trek dan sebangsanya, ada radio, ada lorong bawah tanah yang disebut lorong musik, dan sebagainya. Melahirkan adalah konsep yang kita kenal, demikian juga musik --yang disebut terakhir itu justru merupakan alasan kenapa masyarakat itu mempunyai hubungan dengan bumi kita ini yang memiliki berbagai alat musik. Dan juga ada adegan penutup yang boleh saja mengharukan kita, yakni ketika sesaat sebelum dibunuh musuh, pemimpin Termagania itu melahirkan seorang bayi yang dinamakan Igdrasil, nama yang sama dengan si narator, yang berhasil diselamatkan dari planet asing itu dengan pesawat ke bumi. Igdrasil menyelamatkan Igdrasil, "membawa Igdrasil dalam pelukanku".

Pengantar yang ditulis Dinar menjelaskan proses penulisan cerita-cerita ini. Dongeng melahirkan dongeng, begitu seterusnya sehingga tumbuh hutan rimba dongeng yang meluas ke mana-mana. Musik, fiksi, film, dan mitologi merupakan sumber yang tersedia untuk dicuri atau dicontek karena lewat benda budaya tersebut kita bisa mengintip dunia yang ingin kita masuki, yang dalam kehidupan sehari-hari kita tidak terjangkau, tidak akan terjalani. Dinar telah menciptakan dunia lain tempat ia mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar manusia yang dalam penghayatannya bisa disimpulkan dalam salah satu larik cerita yang menjadi judul buku ini, "Aku menjadi kehidupan satu-satunya di angkasa, entah di mana. Mengetahui ada kehidupan lain tapi tak dapat mengatakannya kepada siapa pun". Ia, entah di mana, berada di tahap akhir sebuah proses laboratorium "penciptaan", langsung menghadapi masalah komunikasi. Pada pembacaan saya, itulah wisdom yang mendasari cerita-ceritanya.

* Sapardi Djoko Damono, penyair

Judul : Usaha Menjadi Sakti

Penulis : Gunawan Maryanto

Penerbit : omahsore 2009, Yogyakarta

Tebal : vii + 160 hlm; 13.5 cm x 20 cm

ISBN : 978-979-19047-7-3

Harga : Rp 40.000,-












Usaha Menjadi Sakti
 

--------------------------

untuk pemesanan hubungi:

* e-mail: omah_sore@yahoo.com
* YM : omah_sore
* phone/sms : (021)92306943 atau (0274)9198980


Judul : Kunci

Penulis : TS Pinang

Penerbit : omahsore 2009, Yogyakarta

Tebal : vii + 70 hlm; 13.5 cm x 20 cm

ISBN : 978-979-19047-8-0

Harga : Rp 30.000,-












Kunci

kami membuka gerbang langit dengan anak kunci yang kami tempa dari bijih cinta. kami berdoa dengan secawan air tanah dan daun sirih, lalu kami saling menyapa. di depan pintu ini kami membaca salam di ambang gerbang, semoga semua mahluk berbahagia, dan semoga anak-anak kami sehat sentosa.

langkah kami seinjak demi seinjak, seperti ketuk kata dalam sajak. kami saling rengkuh seputaran anak kunci membuka gerbang pintu langit kami: pintu berdaun tebal kayu jati, dengan engsel yang berbunyi.

 

--------------------------

untuk pemesanan hubungi:

* e-mail: omah_sore@yahoo.com
* YM : omah_sore
* phone/sms : (021)92306943 atau (0274)9198980

Blog EntryApr 15, '09 1:41 AM
for everyone

Judul : Abad yang Berlari

Penulis : Afizal Malna

Penerbit : omahsore 2009, Yogyakarta

ISBN : 978-979-19047-2-8

Harga : Rp 20.000,-

Abad yang Berlari. Lewat kumpulan sajak inilah 25 tahun yang lalu Afizal Malna menapakkan kakinya dengan kokoh di dunia sastra Indonesia. Karya yang diterbitkan pertamakali di tahun 1984 ini, memberi pengaruh yang cukup luas bagi perkembangan sastra kita. Maka tidak mengherankan jika pada waktu itu buku ini mendapat Hadiah Buku Sastra Dewan Kesenian Jakarta. Dan kini, tepat 25 tahun kemudian, Omahsore dengan suka cita menghadirkannya kembali  di tengah Anda. Sebuah langkah kecil untuk membaca dunia sastra kita dengan menyajikan kembali karya-karya lama yang monumental namun sangat sulit untuk kita dapatkan di pasar buku kita.

 

Dalam penerbitan ulang ini Afrizal Malna melakukan beberapa pembenahan dan penambahan kecil atas sajak-sajaknya, memperbaiki beberapa kesalahan dalam penerbitannya terdahulu. Karena itu bagi yang sudah membaca atau memiliki edisi terdahulu, buku Abad yang Berlari versi Omahsore ini tetap layak untuk Anda baca.

 

 

Salam Hangat

Afrizal Malna dan Omahsore



Abad Yang Berlari

 

palu. waktu tak mau berhenti, palu. waktu tak mau berhenti. seribu jam menunjuk waktu yang bedaberbeda. semua berjalan sendiri-sendiri, palu.

 

orang-orang nonton televisi, palu. nonton kematian yang dibuka di jalan-jalan, telah bernyanyi bangku-bangku sekolah, telah bernyanyi di pasar-pasar, anak-anak kematian yang mau merubah sorga. manusia sunyi yang disimpan waktu.

 

palu. peta lariberlarian dari kota datang dari kota pergi, mengejar waktu, palu, dari tanah kerja dari laut kerja dari mesin kerja. kematian yang bekerja di jalan-jalan, palu. kematian yang bekerja di jalan-jalan.

 

dada yang bekerja di dalam waktu.

 

dunia berlari.. dunia berlari

seribu manusia dipacu tak habis mengejar.

 

1984

Attachment: favicon.ico
Attachment: animated_favicon1.gif

Start:     Apr 17, '09 08:00a


Sebuah perayaan sederhana atas puisi-puisi Gunawan Maryanto oleh kerabat dekat yang selama ini tak henti menginspirasi karya-karyanya. Andy Seno Aji akan menerjemahkan dunia puisi Gunawan Maryanto dalam bentuk visual, Sahita (kelompok teater-tari dari Surakarta) mencoba menggarap sebuah karya berangkat dari puisi 'Kayon Blumbangan' dan 'Sendhon Abimanyu'--satu hal yang tak pernah mereka lakukan sebelumnya. Adapun Umbrella Project, sebuah kelompok vokal yang baru saja terbentuk akan mengangkat "seikat kembang gunung' dan 'Banowati' dengan gaya vokal 80'an. Juga tak ketinggalan pembacaan atas Gunawan Maryanto dan puisi-puisinya oleh Ani Himawati. Serta pembacaan puisi oleh Kill the DJ, Sri Qadariatin, Theodorus Christanto, dan Yudi Ahmad Tajudin dengan gaya dan tafsir mereka masing-masing.

Kami tunggu kehadiran anda untuk membaca puisi atau sekedar menikmati kebersamaan.

Blog EntryApr 2, '09 11:30 AM
for everyone

Blog EntryMar 15, '09 8:10 AM
for everyone
Judul : Lacrimosa - Kumpulan Cerita Pendek

Penulis : Dinar Rahayu

Penerbit : omahsore 2009, Yogyakarta

ISBN : 978-979-19047-1-1

Tebal : x + 125 hlm; 14.5 x 21 cm

Harga: Rp 40.000,-

















Tak ada yang bisa aku hubungi pun yang menghubungi aku. Tak ada penanda koordinat. Tak ada suara detak logam karena semburan gas dari mesin sudah terlalu panas. Hanya suaraku yang kadang berbicara sendirian dan sedikit kicau elektronik. Tak banyak. Untuk apa bertelinga, bermulut, bermata. Aku teringat sejenis ikan buta yang hidup dalam gua di dasar laut. Terdengar menyedihkan, tapi di gua itu sinar matahari tak dikenal. Mata tak diperlukan. Indera tak diperlukan untuk hidup… (Lacrimosa)


Dengan memadukan kedalaman mitologi purba dari ribuan tahun silam dan kecanggihan imajinasi sains dan teknologi mutakhir, cerpen-cerpen ini adalah penjelajahan brilian atas jiwa manusia, dengan kesakitan, kerinduan, kebertubuhan dan impian-impiannya

Bambang Sugiharto (Guru Besar Estetika dan Pengamat Sastra)



Dinar Rahayu.
Lahir di Bandung 9 Oktober 1971. Menyelesaikan studi S1 di Jurusan Kimia-ITB. Novel pertamanya Ode Untuk Leopold von Sacher-Masoch (2002). Lacrimosa adalah kumpulan cerita pendeknya yang pertama. Pernah mengikuti beberapa festival sastra atas undangan Dewan Kesenian Jakarta, Komunitas Utan Kayu, dan Winternachten.
Attachment: poster-lacrimosa2.jpg
Attachment: favicon.ico

Blog EntryJan 21, '09 3:53 AM
for everyone

0Judul : Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya

Penulis : Gunawan Maryanto

Penerbit : omahsore 2008, Yogyakarta

Tebal : x + 75 hlm; 12.2 x 18 cm

ISBN : 978-979-19047-0-4

Harga: Rp 30.0000,-

.

.

.

.

.

.

.

.

1
baiklah. kujalani saja kutukan ini
akan kutulis seribu perasaan tentangmu
mulai pagi ini hingga kelak
ketika burung-burung itu tak lagi bersarang di rambutmu
saat itulah semua berakhir

1.1

juga diriku: mencair,
menjelma sungai, tak sanggup kauseberangi
menjadi kesedihan, kaukenang sepanjang jalan

1.2
juga dirimu: mencair,
datang tiap musim penghujan
dengan curah yang tetap, tak berubah

1.1.1

perasaan, aku tak ingin berlebihan
tapi pernahkah kita kosong. benar-benar kosong
datar tanpa tekanan. tetap. tak berlebihan. tanpa emosi
tak ada sama sekali, bahkan untuk sebaris puisi

(Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya, 2007)

.

Gunawan Maryanto. Bergiat sebagai penulis dan sutradara dari Teater Garasi: Laboratorium Penciptaan Teater. Saat ini menetap di Jogja. Karya-karya tulisnya berupa prosa dan puisi serta kritik seni pertunjukan terpublikasikan lewat Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Jawa Pos, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Bernas, BlockNotProse, BlockNotPoetry, On/Off, Jurnal Kolong Budaya, Jurnal Puisi, Jurnal Prosa, Jurnal Cerpen, Jurnal Kalam dan LeBur Theater Quarterly. Bukunya yang telah terbit adalah Waktu Batu (sastra lakon, ditulis bersama Andri Nur Latif dan Ugoran Prasad, IndonesiaTera 2004), Bon Suwung (kumpulan cerpen, InsistPress 2005, Longlist Khatulistiwa Award 2005) dan Galigi (kumpulan cerpen, Penerbit Koekoesan 2007, LongList Khatulistiwa Award 2007). Pada tahun 2004 puisinya yang berjudul Kupanggil Kau Batu mendapat nominasi Anugrah Sih Award dari Jurnal Puisi dan tahun 2007 puisi Jineman Uler Kambang mendapat Anugrah Budaya dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk Media Cetak dan Elektronik katagori puisi. 1 cerpen dan 3 puisinya masuk ke dalam 20 Cerpen Indonesia Terbaik dan 100 Puisi Indonesia Terbaik Anugerah Sastra Pena Kencana 2008 (PT. Gramedia Pustaka Utama). Juga pernah diundang untuk membacakan karyanya di Bienal Sastra Internasional Utan Kayu 2005 dan Ubud Writers and Readers Festival 2006.

Attachment: poster perasaan.jpg
Attachment: poster pertunjukan perasaan 17 April.jpg

Photo Albumbon suwungJan 21, '09 3:50 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Judul : Bon Suwung

Penulis : Gunawan Maryanto

Penerbit : INSISTPress 2005, Yogyakarta

Tebal : 152 hlm; 13 x 20,5 cm

ISBN :979-3457-46-5

Harga: Rp 35.0000,-

Merujuk pandangan Prof Budi Darma ada tiga ciri cerpen Gunawan Maryanto. Pertama, cerpen identik dengan puisi. Kedua, cerpen adalah alusi. Ketiga, cerpen identik dengan dunia asing. Karena cerpen identik dengan puisi, maka cerpen Gunawan Maryanto bertitik berat pada retorika, bukan dua komponen utama dalam cerpen-cerpen tradisional, yakni penokohan dan alur. Cerpen adalah alusi, karena itu sebagian cerpen Gunawan Maryanto berdasarkan teks yang sudah ada sebelumnya, seperti novel, puisi dan penelitian. Bahkan, sebetulnya cerpen Gunawan tidak secara langsung merupakan alusi pun, tidak lepas dari teks-teks yang sudah ada sebelumnya. Retorika cenderung untuk tidak menyentuh realitas yang sebenarnya, sementara alusi adalah teks yang secara tidak langsung diangkat ke dalam teks lain, karana itu jangan heran, cerpen Gunawan Maryanto menawarkan dunia yang asing.

Photo Albumsepasang sepatu sendiri dalam hujanJan 20, '09 5:19 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Judul : Sepasang Sepatu Sendiri Dalam Hujan

Penulis : Maulana Achmad - Inez Dikara - Dedy T. Riyadi

Penerbit : Carangbook 2008, Yogyakarta

Tebal : xxi + 118 hlm; 13,5 cm x 20 cm

ISBN :978-979-99838-3-1

Harga: Rp 25.0000,-


- “Kumpulan ini bukanlah sebuah selebrasi,” (Akmal Nasery Basral, jurnalis-penulis)

- “Mereka sedang menunjukkan pada kita bahwa hidup begitu memikat justru karena ia (terlalu) singkat,” (Gratiagusti Chananya Rompas, penggagas Komunitas BungaMatahari)

- “…kontemplasi yang memadukan unsur peristiwa dan kegelisahan dalam diri,” (Kurnia Effendi, cerpenis-penyair)

- “Ketiga penyair ini sedang menegur pembaca dengan cara yang berbeda,” (Sigit Susanto, penulis-penikmat sastra-moderator Apresiasi Sastra)

- ” …mereka sengaja membiarkan rasa, logika, dan intuisi kosmik berkolaborasi dengan gaduh sembari menjaga kamar puitik mereka tetap hening,” (TS. Pinang, penyair)

- ” … seperti mempertemukan tiga penyair lantas ketiganya menzikirkan sajak dengan caranya sendiri-sendiri,” (Hasan Aspahani, penyair)

Buku kumpulan sajak “Sepasang Sepatu Sendiri Dalam Hujan” setebal 118 halaman ini disunting oleh TS Pinang, disupervisi oleh Raudal Tanjung Banua dan Joni Ariadinata, tata letak dan desain sampul oleh Kinu Triatmojo, foto-foto penyair oleh Pradnya Paramita dan Oman, serta produksi oleh Nur Wahida Idris. Terdapat pula ulasan dari Hasan Aspahani sebagai kata pengantar buku kumpulan sajak ini.